Kehilangan ; Perihal Waktu dan Objeknya
Haii, rasa-rasanya udah lama sekali nggak nongol di sini, hehe. Maklum, kehabisan topik si penulisnya.
Kali ini, saya ingin membawa topik mengenai kehilangan. Ye, datang-datang kok membawa pilu sih, duh.
Jadi, beberapa minggu yang lalu sempat antusias untuk mengadopsi dua ekor anak kucing yang masih kecil. Seharusnya sih masih menyusui induknya, akan tetapi induknya sudah meninggal.
Warnanya abu-abu yang satunya abu-abu campur putih. Kondisinya memang banyak luka di tubuhnya semacam scabies, atau mungkin memang itu juga belum tahu pastinya.
![]() |
| Bonus foto si abu |
Saya memberinya susu tiap kali mereka mengeong nangis, memandikannya, dan setelah beberapa saat baru memberinya makan wet food.
Dua anak kucing tersebut masih belum bisa maksimal berjalan alias oleng-oleng berjalannya.
Setelah tepat dua minggu sejak saya memutuskan adopsi, mereka pergi. Saya tak tahu apa penyebabnya. Padahal sudah berencana membawa mereka ke puskeswan menunggu hari sabtu.
Tapi yah, takdir siapa yang tahu?
Saya benar-benar merasa terpukul, sedih, dan teramat merasa bersalah. Padahal belum sempat diberi nama, karena belum tahu jenis kelaminnya.
Saya sendiri yang memutuskan untuk adopsi, tapi pas sama saya mereka malah meninggal.
Kata teman saya cukup menyadarkan, kamu udah usaha, ngerawat anak kucing emang nggak mudah. Lain kali dijadiin pelajaran aja, biar kedepannya nggak asal adopsi karena kasihan.
Lalu, ini kisah teman saya. Dia kehilangan seseorang yang berarti baginya. Sedih? Tentu saja, siapa yang malah merasa senang saat ditinggal pergi oleh orang yang teramat berarti? Tidak ada yang namanya baik-baik aja.
Di setiap perjalanan waktu mungkin objeknya masih akan terus menetap disitu, dipindahkan, hilang, ataupun rusak. People come and go, katanya mah. Cuma bagian 'go'nya aja yang sulit untuk diterima.
Ikhlas emang nggak mudah, tapi masih bisa untuk diusahakan :)

Comments
Post a Comment